Saturday, August 18, 2012

Mudik Level: Expert

Seperti kebanyakan orang2 pada umumnya, pada akhir2 ramadhan aku juga pulang ke kampong halaman. Kali ini aku pulang bareng adek, si Maestro. Karena alas an biar hemat dan asik, kita mutusin buat mudik naik motor.

Dari rumah di Inhil aku naik travel ke Pekanbaru, dimana Maestro masih kuliah (ngambil SP). Dari pekanbaru barulah kami berdua naik motor ke Kuansing. Oke, mungkin mmbingungkan mana kampong halamanku yg sebenernya. Jadi gini, Inhil (Indragiri Hilir) adalah tempat dimana keluargaku tinggal (mama papa adek2), karena papa kebetulan kerja disana. Sedangkan Kuansing (Kuantan Singingi) adalah kampong kami yang sebenernya, dimana semua keluarga berasal dan lahir disana. Jadi kalo pulang kampong berarti pulang ke Kuansing. Kalau pulang kerumah berarti pulang ke Inhil.

Perjalanan dari Pekanbaru ke Kuansing ditempuh selama 3 jam. Jalannya bagus banget tapi terlalu banyak belokan2 tajam. hampir aja kita masuk parit gara2 belokannya terlalu tajam. Sesampainya di kampong yang kita langsung kerumah nenek, dan ngunjungin semua keluarga besar. Trus juga sempet main2 ke tempat2 favorit dulu waktu kecil, kaya hutan di belakang rumah dan sawah deket kampong.
rumah kita dikampung

Maestro lagi mainin anak biawak, semoga ibunya gak nyariin

rumah panggung tradisional Kuansing

sawah, sawah everywhere...

sawah tempat biasa main layangan

meluk temen lama..

will you marry me?

buat yang belum tau, ini tai kerbau..

senapan angin buat nembak burung atau tupai..

semak belakang rumah

sungai Kuantan

sapi lagi pacaran..

salah satu spot nongkrong favoritku di kampung


Kita dikampung Cuma 2 hari, setelah ngumpuling THR (mehehehe) akhirnya kita pamit balik kerumah. Dari Kuansing ke Inhil ditempuh selama 7 jam (300m) . Dan ini lumayan bikin pantat kebas. Apalagi jalan Lintas Timur yang bolong2, banyak biawak, dan banyak pungutan liat gajelas. Selain itu tambah susah lagi karena arus mudik udah rame banget. Jalan dipenuhi bis2 dan truk2 serta pengendara motor lain yang bikin jalan makin sempit.

Selama diperjalanan kita gentian nyetir, dan yang paling absurd adalah, kita sering banget pipis di pinggir jalan wekekek. Mudik, nempuh perjalanan jauh kaya gini kayanya udah jadi agenda kita tiap taun, karena rumah dan kampong kita emang agak pelosok dan jauh dari kota. Karna itu kita udah expert dalam hal mudik memudik.

Pulang ke kampong dan kerumah emang selalu repot dan susah, apalagi harus nyebrang  sungai lagi. Tapi itulah yang bikin pulang kerumah merupakan hal sangat luar biasa berharga..
pipis sambil diliatin orang

istirahat di Danau Raja, Rengat

pipis lagi

jalan kaya gini selama 4 jam. pantat berserak..

final chapter: perjalanan laut..

kalau kalian pulang kerumah gak harus gini, sering2lah pulang kawan..

Rumah, bukan kampung

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget