Tuesday, April 7, 2015

6 Things I've Learned After 6 Months Being A Worker

Note: these are based on MY personal experiences.

1. Do Not Skip Breakfast

Skipping breakfast means skipping productivity. You will be less focus and lunch is all you're gonna think about. it'll be even worse if you have to ride to work (or using public transport), that shit consume a lot of energy and your soul especially if you live in crowded city like Jakarta.

when it's still 9.00 and you're hungry and sleepy
empty stomach = empty brain

2. You Have To Pretend To Like Everybody

The most important resource is people (and their connections), and everyone is basically just using everyone else to get what they want (a bit cynical yes, but it's the truth). so you have to show interest in everybody because you'll need them eventually. or atleast, pretend that you like them. buuut if you have a really high tolerance it wouldn't be a problem for you.

When your coworker told you an unfunny joke
when your coworker/boss makes an insulting jokes about you

3. You'll Be Alone A Lot More

All your college friends are now working too, and you're all gonna be "busy". all you have most of the day are your coworkers. if in college you did most of the things with your friends, now you got to do a lot of things on your own.

when you have to eat dinner alone again
when your friends cancel movie plan for the weekend

4. Note Every Income And Outcome

when you have a job, you'll have your own income. and you'll have to be self-sustained so you won't be your parents' burden any longer. the good news is, since you earn your own money you can use it for whatever you want. the bad news is, that's the only source for your income and if you're not careful you'll be broke and starving and even homeless by the end of the month. so, it is very important to manage your finance, choose your priority and don't forget sadoqah.

PAYDAY BITCH!
when you manage your money well (lol jk it never happened)

5. Say Goodbye To Idealism

Idealism usually infected you when you're still a college student. you always wanted to do everything right and in a good way and thought the world as an ideal place. but when you're working, it's not that simple. people don't care anymore about idealism, the only thing people care is PROFIT. so no matter how hard you try to defend your idealism, reality will always smash you in the face to remind you that if you are too naive you'll not survive in this world.


REALITY KICK!!

6. Hobbies Are Very Important

when you are working, you have fixed schedules and you are most likely get stuck in routine. the most effective way to clear your mind and getting out of those monotonous activities is with hobby. it doesn't matter whether you can do it everyday or only on weekends. personally, my biggest hobbies are Parkour/Freerunning and movies. one makes me healthy and the other one makes me creative and imaginative. so, don't underestimate the power of hobby, it'll keep you sane trust me.






Sunday, September 21, 2014

Jak(sp)arta

Udah 3 minggu sejak aku ninggalin Jogja buat tinggal di Jakarta. Kebetulan aku dapet kerjaan disini, lebih tepatnya di Jakarta Timur, di salah satu developer bernama Pancanaka Design & Associates. Ini juga pertama kalinya aku tinggal di Jakarta (biasanya cuma transit penerbangan doang, ama pernah nonton konser sekali), dan kesan pertamaku pertama kali nyampe gak jauh beda sama ekspektasiku sebelumnya. Ngeliat dari berbagai literatur, media dan cerita-cerita dari temen, Jakarta emang seperti itu adanya. Tapi, bukan berarti buruk, lebih tepat dibilang berbeda.

ketika kita dapat hal baru, pasti kita selalu ngebandingin hal baru tersebut dengan preseden lama yang kita tau. Begitu pula ketika aku pertama kali nyampe Jakarta. Segala sesuatu yang aku temuin pasti langsung aku bandingin dengan Jogja; makanan, harga, jalanan, orang-orang, semuanya. Dan tentu saja; Jakarta kalah telak. Pemikiran kaya gitu berlangsung selama beberapa hari, sama seperti pertama kali aku nyampe Jogja 4 tahun yang lalu, semuanya aku banding-bandingin dengan Riau (dan lagi-lagi, Jogja yang menang haha). Kemudian aku sadar kalo kota apapun dibandingin dengan Jogja pasti bakal kalah, karena Jogja merupakan kota paling ideal yang pernah aku tau. Akhirnya aku mutusin buat nganggap Jakarta sebagai konsep dan arena tunggal buat ngejalanin potongan kehidupan yang baru. Sejak saat itu perlahan-lahan aku mulai memahami bagaimana atmosfir dan hal-hal dan segala sesuatunya bekerja dan berproses disini.

Sejauh ini satu-satunya yang menjadi masalah utama di sini adalah jalanannya. Macetnya emang luar biasa. Mungkin jakarta sudah terlalu penuh ama pendatang kaya aku mueheheh. Untungnya, aku kesini ngebawa motor dari Jogja, jadi kemana-mana masih bisa relatif cepat. Tapi tetep aja, harus ngabisin energi dan semangat. Bayangin aja, dari kosanku ke kantor yang jaraknya Cuma 9 km harus ditempuh dalam waktu setengah jam, kalo lagi sial, bisa sampe 1 jam.

Untuk orang-orangnya sendiri, menurutku baik-baik aja. Ramah, dan gak egois-egois amat. Sejauh ini orang-orang yang baiknya gak ketulungan adalah: ibunya Indra, yang pertama kali nyampe Jakarta bersedia ngasih aku tempat bernaung dan makanan2 yang enak sebelum aku dapet kosan sendiri. Kemudian yang kedua adalah ibu kosanku, karena hanya dengan 500K udah nyediain tempat dan fasilitas yang di luar ekspektasiku. Kebetulan yang dia punya sebenernya rumah bukan kosan, karena rumah ini Cuma dia yang nempatin (suaminnya meninggal bulan lalu) jadi kelima kamar kosong dirumahnya disewain. Kamarku sendiri ukurannya cukup luas, lebih kurang sama dengan kosan di Jogja, tapi aku udah gak perlu beli banyak perlengkapan lagi karena udah lengkap dari kasur, sprei, lampu tidur, kipas, lemari, meja, karpet, dll udah disedian ama ibunya. Selain itu bosku di kantor juga asik, orangnya santai dan gak banyak merintah-merintah, jadi rasanya nyaman aja kerja di sana.

Banyak yang nanya, kenapa aku kerja di Jakarta? Kenapa gak di Jogja aja yang udah jelas-jelas nyaman? Kenapa gak di Riau aja yang deket rumah? Jawabannya simple aja: pengen nyari pengalaman baru. Mencari cerita-cerita yang pengen aku kumpulin buat aku ceritain ulang ke anak cucuku ntar. Untuk jogja, 4 tahun disana udah cukup buatku mengenal daerah itu, dan justru karena terlalu nyaman, aku takut nanti bakal susah berkembang. Untuk Riau, rasanya di sana potensi dan kesempatan yang tersedia terlalu sedikit, selain itu kalau terlalu dekat dengan rumah nanti takut sering pulang dan jadi manja. Lagipula, sejak kecil aku udah terbiasa berpindah-pindah setiap kali ganti fase idup. SD, SMP, dan SMA semuanya di kota yang berbeda, kuliah di pulau yang berbeda, dan sekarang kerja di Ibukota. Hidup itu terlalu singkat buat menetap di satu tempat dan kenal ama orang itu-itu aja.

Tapi entah kenapa, setiap hari aku selalu ngerasa excited berada di kota hutan beton ini. Seolah-olah rasanya banyak hal yang menunggu untuk ditawarkan kepada pendatang kaya aku.
Sejak tinggal di Jakarta cukup banyak hal-hal absurd yang aku temuin dan perhatiin. Misalnya sarana transportasi Commuter Line alias kereta rel listrik yang jadi sarana dalam kota, untuk masuk ke kereta ini orang-orang selalu rebutan dan dempet-dempetan abis. sampe2 kalo tidur berdiri pun gabakalan jatoh saking padetnya. kemudian ada Busway a.k. Transjakarta yang juga sama hardcorenya dengan commuter line. bahkan beberapa Busway ada yang disambung jadi kaya akordion sehingga jadi lebih panjang. kemudian ada juga orang make kostum boneka yang joget-jogjet di perempatan lampu merah, sumpah creepy abis, siapa yang mau ngasih receh coba.

tiap kali naik commuter line

transjakarta alias bus akodion, akordionnya pernah patah beberapa kali lol
SERIUSLY WTF IS THIS SHIT?? THE NOPE DOLLS??

Jakarta emang keras, mirip ama film Sparta. harusnya Jakarta diganti namanya jadi Spakarta atau Jaksparta aja. alat transportasinya jadi Spartrain ama Transparta. dan gubernurnya Ahoknidas.